MABAR.NW.id – Operasi pencarian korban kecelakaan kapal KM Feronia yang tenggelam di perairan kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dihentikan oleh Basarnas Maumere pada Kamis (22/10/2026).
Selama 10 hari operasi, sebanyak 76 personel gabungan dari TNI-Polri, Basarnas, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pelindo, serta unsur masyarakat setempat telah dikerahkan untuk mencari korban dan mendeteksi keberadaan bangkai kapal.
Namun, hingga operasi pencarian resmi ditutup, satu korban berinisial VBJ (23), seorang dive master yang berdomisili di Kompleks Bandara Batu Cermin, Labuan Bajo, masih belum ditemukan. Bangkai utama kapal KM Feronia juga belum berhasil terdeteksi.
Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, S.I.K., M.H., mengatakan pihaknya telah mengerahkan sejumlah alat utama dan teknologi bawah laut untuk mendukung upaya pencarian bersama tim SAR gabungan.
Alat yang dikerahkan meliputi satu unit Kapal Pemburu Cepat (KPC) 2007, satu unit Rigid Inflatable Boat (RIB) 02, Sonar Single Beam, serta drone bawah air.
“Penyisiran bawah air menggunakan sonar system difokuskan pada titik koordinat awal tenggelamnya kapal hingga area pergeseran arus laut, meliputi perairan Tatawa Besar, Batu Bolong, Mawan, Batu Tiga, dan Sebayur,” jelas Irwan.
Untuk menghadapi kondisi perairan yang dalam dan arus bawah laut yang dinamis, tim SAR gabungan mengoptimalkan penggunaan teknologi pencarian bawah laut sejak hari kedua hingga hari ke-10 operasi.
Peralatan yang digunakan meliputi Sonar Single Beam dan drone bawah air milik Ditpolairud Polda NTT, satu unit Remotely Operated Vehicle (ROV) dari PT Farmindo, serta Side Scan Sonar milik Koarmada II TNI AL Surabaya.
Operasi tersebut turut didukung KM Hiu Macan 03 milik KKP Kupang, RIB Lanal Labuan Bajo, serta satu unit KRI Pulau Fani-731.
Irwan menjelaskan, penggunaan teknologi tersebut bertujuan memindai dasar laut dan menelusuri titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban maupun bangkai kapal.
“Kami dari kepolisian turut membantu dengan mengerahkan satu unit KPC 2007, satu unit RIB 02, dan teknologi bawah laut modern berupa Sonar Single Beam serta drone bawah air untuk memindai titik-titik krusial di dasar laut,” ungkapnya.
Setelah melalui serangkaian upaya pencarian dan evaluasi hasil pemindaian, tim belum memperoleh petunjuk yang memastikan keberadaan korban maupun bangkai utama KM Feronia.
Menurut Irwan, arus bawah laut yang dinamis menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan operasi di kawasan Taman Nasional Komodo.
“Berdasarkan evaluasi dan analisis hasil rekaman drone bawah air serta pencarian menggunakan sonar hingga Kamis sore, keberadaan korban maupun bangkai kapal KM Feronia masih nihil. Faktor arus bawah laut yang dinamis menjadi salah satu tantangan terbesar di lapangan,” katanya.
Meskipun operasi SAR resmi telah ditutup, jajaran Ditpolairud Polda NTT tetap melakukan patroli rutin di perairan Taman Nasional Komodo.
Polairud juga mengajak masyarakat pesisir dan para nelayan untuk segera melaporkan apabila menemukan benda, puing, atau tanda-tanda lain yang diduga berkaitan dengan KM Feronia.
“Jika menemukan tanda-tanda dari KM Feronia, segera informasikan kepada petugas Polair atau melalui Call Center 101 SPKT Polres Manggarai Barat,” tegas Irwan.
Sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan belasungkawa, doa bersama dijadwalkan berlangsung di Pelabuhan Marina Labuan Bajo untuk mengenang korban kecelakaan kapal KM Feronia.
Irwan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Ia berharap keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Kami dari jajaran Polairud turut menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya.
Semoga almarhumah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” tutupnya.
Komentar (0)
Ingin berkomentar? Masuk ke akun pembaca Anda.
Belum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!