Berita Berkembang
Kab. Belu

Kuliah Umum di Unhan RI Belu, Wagub NTT Johni Asadoma Tegaskan Hukum Harus Jadi Panglima Negara

Wagub NTT Jhoni Asadoma usai memberikan kuliah umum di Unhan Belu

KUPANG.NW.id – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Johni Asadoma, M.Hum., menegaskan bahwa hukum harus menjadi panglima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Penegakan supremasi hukum, menurutnya, merupakan fondasi utama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan serta mewujudkan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Johni saat memberikan kuliah umum bertajuk "Menjaga Supremasi Hukum di Tengah Dinamika Sosial Politik Kekuasaan" di Aula Kampus Politeknik Ben Mboi Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Kabupaten Belu, Kamis (2/7/2026). 

Kuliah umum diikuti 355 kadet dari berbagai program studi, serta dihadiri jajaran pimpinan fakultas, dosen, dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Belu.

Sebelum kuliah dimulai, peserta disuguhkan video dokumenter yang menampilkan perjalanan hidup Johni Asadoma, mulai dari atlet berprestasi, pengabdian panjang sebagai anggota Polri, kiprah di dunia pemerintahan, hingga keberhasilannya meraih gelar doktor. 

Tayangan tersebut menjadi inspirasi bagi para kadet agar terus berjuang meraih prestasi melalui disiplin, kerja keras, dan integritas.

Mewakili Dekan Fakultas Vokasi Logistik Militer Unhan RI, Wakil Dekan I Hikmat Zakky Almubaroq menyampaikan bahwa kehadiran Wakil Gubernur NTT merupakan kesempatan berharga bagi para taruna untuk memperluas wawasan.

Ia mengajak seluruh peserta menyimak materi dengan sungguh-sungguh serta aktif berdiskusi agar ilmu yang diperoleh menjadi bekal dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.

Dalam kuliah umumnya, Johni membuka materi dengan membagikan kisah perjalanan hidupnya yang tumbuh dari keluarga sederhana di Kota Kupang. 

Putra seorang pensiunan TNI AD itu mengaku kondisi ekonomi keluarga justru membentuk karakter pantang menyerah yang mengantarkannya meraih berbagai prestasi di bidang olahraga, kepolisian, akademik, hingga pemerintahan.

"Dunia saat ini dipenuhi persaingan yang sangat ketat. Tidak ada ruang bagi mereka yang malas atau memilih tetap berada di zona nyaman. Teruslah belajar dan bekerja keras," pesannya kepada para kadet.

Johni mengingatkan bahwa para taruna Unhan merupakan generasi pilihan yang dibiayai negara sehingga memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi sumber daya manusia unggul dan profesional di bidang masing-masing.

Memasuki materi utama, Johni menjelaskan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia diatur oleh hukum. 

Karena itu, hukum menjadi instrumen penting dalam menciptakan ketertiban, keadilan, serta membatasi kekuasaan agar tidak disalahgunakan.

"Hukum hadir untuk mengatur kehidupan masyarakat. Tanpa supremasi hukum, sebuah negara akan mudah terjerumus ke dalam kekacauan," tegasnya.

Untuk memperkuat penjelasannya, Johni menguraikan perkembangan konsep negara hukum mulai dari pemikiran filsuf Yunani Plato, teori Friedrich Julius Stahl, hingga konsep rule of law yang dikemukakan A.V. Dicey. 

Ia menegaskan bahwa perlindungan hak asasi manusia, pemisahan kekuasaan, persamaan di hadapan hukum, dan pemerintahan berdasarkan undang-undang merupakan pilar utama negara hukum.

Ia juga mengutip adagium Lord Acton, "Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely," sebagai pengingat bahwa kekuasaan yang tidak dibatasi hukum berpotensi melahirkan kesewenang-wenangan.

Johni turut menjelaskan bahwa politik dan hukum memiliki hubungan yang erat. Politik berperan dalam proses penyusunan kebijakan dan undang-undang, namun setelah aturan ditetapkan, seluruh pihak tanpa terkecuali wajib tunduk pada hukum tersebut.

Di hadapan para kadet, Johni memaparkan empat tantangan besar penegakan supremasi hukum saat ini, yaitu perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, pengaruh kepentingan ekonomi dan oligarki, masih rendahnya kesadaran hukum masyarakat, serta intervensi politik terhadap lembaga penegak hukum.

Menurutnya, kepastian hukum menjadi modal penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat, melindungi hak-hak masyarakat, serta mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Menutup kuliah umumnya, Johni mengajak para kadet Unhan RI menjadi agen perubahan, pemimpin yang berintegritas, serta pengawal konstitusi dan supremasi hukum di Indonesia.

Ia juga membagikan sejumlah prinsip yang menjadi kunci keberhasilannya, yakni memiliki cita-cita besar, disiplin, percaya diri, terus belajar, bekerja keras, memperluas jaringan, mengutamakan nilai spiritual, menghormati orang tua dan guru, peduli kepada sesama, serta menjaga pola hidup sehat.

"Kita harus mencari keunggulan yang tidak dimiliki banyak orang. Kuncinya adalah banyak membaca," pungkas Johni Asadoma disambut tepuk tangan para kadet.

Konten bersifat informatif dan bukan nasihat hukum.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!